YouTube – The Life of Buddha

Posted On : August 16th, 2009 by admin

Over 2,500 years ago, one man showed the world a way to enlightenment. This beautifully produced Buddhist film meticulously reveals the fascinating story of Prince Siddhartha and the spiritual transformation that turned him into the Buddha.

Buddha (563 SM – 483 SM)

Posted On : August 16th, 2009 by admin

Gautama Buddha nama aslinya pangeran Siddhartha pendiri Agama Buddha, salah satu dari agama terbesar di dunia. Putra raja Kapilavastu, timur laut India. berbatasan dengan Nepal. Siddhartha sendiri (marga Gautama dari suku Sakya) konon lahir di Lumbini yang kini termasuk wilayah negara Nepal. Kawin pada umur enam belas tahun dengan sepupunya yang sebaya. Dibesarkan di dalam istana mewah, pangeran Siddhartha tak betah dengan hidup enak berleha-leha, dan dirundung rasa tidak puas yang amat. Dari jendela istana yang gemerlapan dia menjenguk ke luar dan tampak olehnya orang-orang miskin terkapar di jalan-jalan, makan pagi sore tidak, atau tidak mampu makan sama sekali. Hari demi hari mengejar kebutuhan hidup yang tak kunjung terjangkau bagai seikat gandum di gantung di moncong keledai. Tarolah itu yang gembel. Sedangkan yang berpunya pun sering kehinggapan rasa tak puas, waswas gelisah, kecewa dan murung karena dihantui serba penyakit yang setiap waktu menyeretnya ke liang lahat. Siddhartha berpikir, keadaan ini mesti dirobah. Mesti terwujud makna hidup dalam arti kata yang sesungguhnya, dan bukan sekedar kesenangan yang bersifat sementara yang senantiasa dibayangi dengan penderitaan dan kematian.

Tatkala berumur dua puluh sembilan tahun, tak lama sesudah putra pertamanya lahir, Gautama mengambil keputusan dia mesti meninggalkan kehidupan istananya dan mengharnbakan diri kepada upaya mencari kebenaran sejati yang bukan sepuhan. Berpikir bukan sekedar berpikir, melainkan bertindak. Dengan lenggang kangkung dia tinggalkan istana, tanpa membawa serta anak-bini, tanpa membawa barang dan harta apa pun, dan menjadi gelandangan dengan tidak sepeser pun di kantong. Langkah pertama, untuk sementara waktu, dia menuntut ilmu dari orang-orang bijak yang ada saat itu dan sesudah merasa cukup mengantongi ilmu pengetahuan, dia sampai pada tingkat kesimpulan pemecahan masalah ketidakpuasan manusia.

Umum beranggapan, bertapa itu jalan menuju kearifan sejati. Atas dasar anggapan itu Gautama mencoba menjadi seorang pertapa, bertahun-tahun puasa serta menahan nafsu sehebat-hebatnya. Akhirnya dia sadar laku menyiksa diri ujung-ujungnya cuma mengaburkan pikiran, dan bukannya malah menuntun lebih dekat kepada kebenaran sejati. Pikir punya pikir, dia putuskan mendingan makan saja seperti layaknya manusia normal dan stop bertapa segala macam karena perbuatan itu bukan saja tidak ada gunanya melainkan bisa bikin badan kerempeng, loyo, mata kunang-kunang, ngantuk, linu, bahkan juga mendekati bego.

Dalam kesendirian yang tenang tenteram dia bergumul dengan perikehidupan problem manusiawi. Akhirnya pada suatu malam, ketika dia sedang duduk di bawah sebuah pohon berdaun lebar dan berbuahkan semacarn bentuk buah pir yang sarat biji segala macam, maka berdatanganlah teka-teki masalah hidup seakan berjatuhan menimpanya. Semalam suntuk Siddhartha merenung dalam-dalam dan ketika mentari merekah di ufuk timur dia tersentak dan berbarengan yakin bahwa terpecahkan sudah persoalan yang rumit dan dia pun mulai saat itu menyebut dirinya Buddha “orang yang diberi penerangan.”

Pada saat itu umurnya menginjak tiga puluh lima tahun. Sisa umurnya yang empat puluh lima tahun dipergunakannya berkelana sepanjang India bagian utara, menyebarkan filosofi barunya di depan khalayak siapa saja yang sudi mendengarkan. Saat dia wafat, tahun 483 sebelum Masehi, sudah ratusan ribu pemeluk ajarannya. Meskipun ucapan-ucapannya masih belum ditulis orang tapi petuah-petuahnya dihafal oleh banyak pengikutnya di luar kepala, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya lewat mulut semata.

Pokok ajaran Buddha dapat diringkas di dalam apa yang menurut istilah penganutnya “Empat kebajikan kebenaran:” pertama, kehidupan manusia itu pada dasarnya tidak bahagia; kedua, sebab-musabab ketidakbahagiaan ini adalah memikirkan kepentingan diri sendiri serta terbelenggu oleh nafsu; ketiga, pemikiran kepentingan diri sendiri dan nafsu dapat ditekan habis bilamana segala nafsu dan hasrat dapat ditiadakan, dalam ajaran Buddha disebut nirvana; keempat, menimbang benar, berpikir benar, berbicara benar, berbuat benar, cari nafkah benar, berusaha benar, mengingat benar, meditasi benar. Dapat ditarnbahkan Agama Buddha itu terbuka buat siapa saja, tak peduli dari ras apa pun dia, (ini yang membedakannya dengan Agama Hindu).

Beberapa saat sesudah Gautama wafat agama baru ini merambat pelan. Pada abad ke-3 sebelum Masehi, seorang kaisar India yang besar kuasa bernama Asoka menjadi pemeluk Agama Buddha. Berkat dukungannya, penyebaran Agama Buddha melesat deras, bukan saja di India tapi juga di Birma. Dari sini agarna itu menjalar ke seluruh Asia Tenggara, ke Malaysia dan Indonesia.

Angin penyebaran pengaruh itu bukan cuma bertiup ke selatan melainkan juga ke utara, menerobos masuk Tibet, ke Afghanistan dan Asia Tengah. Tidak sampai situ. Dia mengambah Cina dan merenggut pengaruh yang bukan buatan besarnya dan dari sana menyeberang ke Jepang dan Korea.

Sedangkan di India sendiri agama baru itu mulai menurun pengaruhnya sesudah sekitar tahun 500 Masehi malahan nyaris punah di tahun 1200. Sebaliknya di Cina dan di Jepang, Agama Buddha tetap bertahan sebagai agama pokok. Begitu pula di Tibet dan Asia Tenggara agama itu mengalami masa jayanya berabad-abad.

Ajaran-ajaran Buddha tidak tertulis hingga berabad-abad sesudah wafatnya Gautama. Karena itu mudahlah dimaklumi mengapa Agama itu terpecah-pecah ke dalam pelbagai sekte. Dua cabang besar Agama Buddha adalah cabang Theravada-pengaruhnya terutama di Asia Tenggara dan menurut anggapan sebagian besar sarjana-sarjana Barat cabang inilah yang paling mendekati ajaran-ajaran Buddha yang asli-. Cabang lainnya adalah Mahayana, bobot pengaruhnya terletak di Tibet, Cina dan juga di Asia Tenggara secara umum.

Buddha, selaku pendiri salah satu agama terbesar di dunia, jelas layak menduduki urutan tingkat hampir teratas dalam daftar buku ini. Karena jumlah pemeluk Agama Buddha tinggal 200 juta dibanding dengan pemeluk Agama Islam yang 500 juta banyaknya dan satu milyar pemeluk Agama Nasrani, dengan sendirinya pengaruh Buddha lebih kecil ketimbang Muhammad atau Isa. Akan tetapi, beda jumlah penganut -jika dijadikan ukuran yang keliwat ketat- bisa juga menyesatkan. Misalnya, matinya atau merosotnya Agama Buddha di India bukan merosot sembarang merosot melainkan karena Agama Hindu sudah menyerap banyak ajaran dan prinsip-prinsip Buddha ke dalam tubuhnya. Di Cina pun, sejumlah besar penduduk yang tidak lagi terang-terangan menyebut dirinya penganut Buddha dalam praktek kehidupan sehari-hari sebenarnya amat di pengaruhi oleh filosofi agama.

Agama Buddha, jauh mengungguli baik Islam maupun Nasrani, punya anasir pacifis yang amat menonjol. Pandangan yang berpangkal pada tanpa kekerasan ini memainkan peranan penting dalam sejarah politik negara-negara berpenganut Buddha.

Banyak orang bilang bila suatu saat kelak Isa turun kembali ke bumi dia akan melongo kaget melihat segala apa yang dilakukan orang atas namanya, dan akan cemas atas pertumpahan darah yang terjadi dalam pertentangan antar sekte yang saling berbeda pendapat yang sama-sama mengaku jadi pengikutnya. Begitu juga akan terjadi pada diri Buddha. Dia tak bisa tidak akan ternganga-nganga menyaksikan begitu banyaknya sekte-sekte Agama Buddha yang bertumbuhan di mana-mana, saling berbeda satu sama lain walau semuanya mengaku pemeluk Buddha. Narnun, bagaimanapun semrawutnya sekte-sekte yang saling berbeda itu tidaklah sarnpai menimbulkan perang agama berdarah seperti terjadi di dunia Kristen Eropa. Dalam hubungan ini, paling sedikit berarti ajaran Buddha tampak jauh mendalam dihayati oleh pemeluknya ketimbang ajaran-ajaran Isa dalarn kaitan yang sama.

Buddha dan Kong Hu-Cu kira-kira punya pengaruh setaraf terhadap dunia. Keduanya hidup di kurun waktu yang hampir bersamaan, dan jumlah pengikutnya pun tak jauh beda. Pilihan saya menempatkan nama Buddha lebih dulu daripada Kong Hu-Cu dalam urutan disandarkan atas dua pertimbangan: pertama, perkembangan Komunisme di Cina nyaris menyapu habis pengaruh Kong Hu -Cu, sedangkan tampaknya masa depan Buddha masih lebih banyak celah dan pengaruh ketimbang dalam Kong Hu-Cu; kedua, kegagalan ajaran Kong Hu-Cu menyebar luas ke luar batas Cina menunjukkan betapa erat taut bertautnya ajaran Kong Hu-Cu dengan sikap dan tata cara jaman Cina lama. Sebaliknya, ajaran Buddha tak ada mengandung pernyataan ulangan atau mengunyah-ngunyah filosofi India terdahulu, dan Agama Buddha menyebar melangkah batas pekarangan negerinya -India- bersandarkan gagasan tulen Gautama serta jangkauan luas filosofinya.

Be Happy, If You Have a Problem

Posted On : August 12th, 2009 by admin

Membaca judul di atas mungkin kita bertanya-tanya, apakah penyaji tak salah tulis. Kita mungkin berkata, ”Bukankah akan lebih berbahagia kalau kita sama sekali tak punya masalah?” Kalau demikian, kita salah besar! Dimana ada kehidupan, disitu pasti ada permasalahan. Namun, tahukah kita bahwa di balik setiap masalah terkandung suatu peluang emas dan kesempatan yang besar untuk maju?

Ada kata-kata bijak dari Norman V Peale yang patut Anda renungkan. Dalam bukunya You Can If You Think You Can, ia mengatakan, ”Apabila seseorang ingin menghadiahkan sesuatu yang berharga, bagaimanakah Ia memberikannya kepada Anda? Apakah Ia menyampaikan dalam bentuk suatu kiriman yang indah dalam nampan perak? Tidak! Sebaliknya seseorang membungkusnya dalam suatu masalah yang pelik, lalu melihat dari jauh apakah kita sanggup membuka bungkusan yang ruwet itu, dan menemukan isinya yang sangat berharga, bagaikan sebutir mutiara yang mahal harganya yang tersembunyi dalam kulit kerang.”

Pernyataan di atas bukan sekedar kata-kata indah untuk menghibur diri kita yang & sedang kalut menghadapi suatu masalah. Ini adalah perubahan paradigma dan cara berpikir. Keadaan apa pun yang kita hadapi sebenarnya bersifat netral. Kita lah yang memberikan label positif atau negatif terhadapnya. Seperti yang dikatakan filsuf Cina, I Ching, ”Peristiwanya sendiri tidak penting, tapi respon terhadap peristiwa itu adalah segala-galanya.”

Berikut ini contoh sederhana. Sebagai seorang fasilitator yang memberikan pelatihan di berbagai perusahaan, saya pernah menghadapi penolakan dari klien semata-mata karena usia saya yang dianggap terlalu muda. Saya pernah menganggap ini masalah besar. Bagaimana tidak? Ini menyangkut kredibilitas saya. Saya kemudian memikirkannya berhari-hari. Kepercayaan diri saya mulai terganggu. Lama-kelamaan saya sadar bahwa penolakan semacam ini adalah hal biasa. Justru ini adalah kesempatan untuk berkembang. Karena itu, saya segera menggali kebutuhan klien dan mencari pendekatan yang lebih dapat diterima. Saya terus meningkatkan kompetensi, sampai akhirnya saya dapat diterima oleh perusahaan tersebut. Kalau demikian, penolakan awal itu sama sekali bukan sebuah masalah, tapi sebuah peluang yang sangat berharga. Semua kesulitan sesungguhnya merupakan kesempatan bagi jiwa kita untuk tumbuh. Sayang, lebih banyak orang yang menganggap masalah sebagai sesuatu yang harus dihindari. Mereka tak mampu melihat betapa mahalnya mutiara yang terkandung dalam setiap masalah. Ibarat mendaki gunung, ada orang yang bertipe Quitters. Mereka mundur teratur dan menolak kesempatan yang diberikan oleh gunung.

Ada orang yang bertipe Campers, yang mendaki sampai ketinggian tertentu kemudian mengakhiri pendakiannya dan mencari tempat yang datar dan nyaman untuk berkemah. Mereka hanya mencapai sedikit kesuksesan tapi sudah merasa puas dengan hal itu. Tipe ketiga adalah Climbers yaitu orang yang seumur hidupnya melakukan pendakian, dan tak pernah membiarkan apapun menghalangi pendakiannya. Orang seperti ini senantiasa melihat hidup ini sebagai ujian dan tantangan. Ia dapat mencapai puncak gunung karena memiliki mentalitas yang jauh lebih tinggi, mengalahkan tingginya gunung. Orang dengan tipe ini benar-benar meyakini apa yang pernah dikatakan Dag Hammarskjold, ”Jangan pernah mengukur tinggi sebuah gunung sebelum kita mencapai puncaknya. Karena begitu ada dipuncak, kita akan melihat betapa rendahnya gunung itu.”

Semua masalah sebenarnya adalah rahmat terselubung bagi kita. Mereka ”berjasa” karena dapat membuat kita lebih baik, lebih arif, lebih bijaksana, dan lebih sabar. Kita baru dapat disebut manajer yang baik kalau kita mampu memimpin seorang bawahan yang sulit, yang membuat para manajer lain angkat tangan. Kita baru menjadi orang tua yang baik kalau kita dapat menangani anak yang  bermasalah, atau pun menantu yang keras kepala, yang melakukan sesuatu melebihi batas kesabaran kita. Kita baru dapat disebut profesional kalau kita mampu menangani pelanggan yang cerewet yang sering mengeluh dan banyak maunya. Untuk mencapai kesuksesan kitaperlu memiliki adversity quotient, yaitu kecerdasan dan daya tahan yang tinggi untuk menghadapi masalah.

Kecerdasan tersebut dimulai dari merubah pola pikir dan paradigma kitasendiri. Mulailah melihat semua masalah yang kita hadapi sebagai peluang, kesempatan, dan rahmat. Kita akan merasa tertantang, namun tetap mampu menjalani hidup yang tenang dan damai. Berbahagialah jika kita memiliki masalah. Itu artinya kita sedang hidup dan berkembang. Justru bila kita tak punya masalah sama sekali, saya sarankan kita segera berdoa dan terus berusaha untuk menerapkan nilai-nilai moral yang kita pelajari, dengan berusaha mempraktekkan sesuatu yang benar demikian kita tak perlu khawatir. Perbuatan  baik tak akan pernah memberikan suatu beban yang kita tak sanggup memikulnya.

Kehidupan dan Uang

Posted On : August 12th, 2009 by admin

Bukan uang yang mendatangkan kebahagiaan, tetapi batin yang tenang dan bersih, murah hati dan suka menolong.
Kebahagiaan seseorang tidak semata-mata karena uang dan kekayaan, namun ketenangan dan kebahagiaan seseorang tergantung dari sikap hidup kita atau kita kenal dengan karma baik. Kita merasa bahagia jika suka menolong orang lain dan melakukan segala bentuk karma baik.
Simaklah kisah berikut ini :

Kisah Kala, Putra Anathapindika
Kala, putra Anathapindika, selalu menghindar ketika Sang Buddha dan para bhikkhu rombonganNya datang berkunjung ke rumahnya.
Anathapindika khawatir jika putranya tetap bersikap seperti itu, ia akan terlahir kembali di salah satu alam yang rendah (apaya). Ia membujuk putranya dengan menjanjikan sejumlah uang. Anathapindika berjanji untuk memberikan sejumlah uang jika putranya berkenan pergi ke vihara dan berdiam di sana selama sehari pada saat hari uposatha. Putranya pergi ke vihara dan pulang kembali pada esok harinya, tanpa mendengarkan khotbah-khotbah. Ayahnya memberikan nasi kepadanya, tetapi daripada mengambil makanannya, ia terlebih dahulu menuntut untuk diberi uang.

Pada hari berikutnya, sang ayah berkata pada putranya, “Putraku, jika kamu mempelajari sebait syair dari Sang Buddha, saya akan memberimu sejumlah uang yang lebih banyak pada saat kau kembali.” Kemudian Kala pergi ke vihara, dan mengatakan kepada Sang Buddha bahwa ia ingin mempelajari sesuatu. Sang Buddha memberikannya sebuah syair pendek untuk dihafal luar kepala; dalam waktu yang singkat Beliau merasa bahwa si pemuda tidak mudah mengingatnya. Jadi, si pemuda harus mengulangi satu syair berulang kali. Karena ia harus mengulanginya berulang kali, pada akhirnya ia mengerti penuh tentang Dhamma dan mencapai tingkat kesucian sotapatti.
Pagi-pagi sekali pada hari berikutnya, ia mengikuti Sang Buddha dan para bhikkhu menuju ke rumah orang tuanya. Tetapi pada hari itu, ia dengan diam-diam berharap, “Saya berharap ayahku tidak akan memberikan kepadaku sejumlah besar uang pada saat kehadiran Sang Buddha nanti. Saya tidak berharap Sang Buddha mengetahui bahwa saya berdiam di vihara hanya demi uang.”

Ayahnya memberikan dana makanan kepada Sang Buddha dan para bhikkhu, dan juga kepadanya. Kemudian, ayahnya membawa sejumlah besar uang, dan menyuruh Kala untuk mengambil uang tersebut. Dengan terkejut Kala menolak. Ayahnya memaksa Kala untuk menerima uang itu, tetapi Kala tetap menolak. Kemudian, Anathapindika berkata kepada Sang Buddha, “Bhante, putra saya benar-benar berubah; sekarang ia berkelakuan sangat menyenangkan. ” Kemudian ia menceritakan kepada Sang Buddha bagaimana ia membujuk putranya dengan uang agar putranya berkenan pergi ke vihara dan berdiam di sana pada saat hari uposatha, serta untuk mepelajari beberapa syair Dhamma.
Sang Buddha menjawab, “Anathapindika! Hari ini, putramu telah mencapai tingkat kesucian sotapatti, yang lebih baik daripada kekayaan kerajaan duniawi atau alam para dewa maupun alam para brahma.”

Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 178 berikut:
Ada yang lebih baik
daripada kekuasaan mutlak atas bumi,
daripada pergi ke surga,
atau daripada memerintah seluruh dunia,
yakni hasil kemuliaan dari seorang suci
yang telah memenangkan arus (sotapatti-phala) .

Pegangan Hidup yang Benar

Posted On : August 12th, 2009 by admin

Namo Tassa Bhagavato Arahato Sammasambuddhassa

Dewasa ini amatlah banyak yang kita temui kasus-kasus orang yang mengalami goncangan batin, tekanan batin atau dalam bahasa populernya disebut Stress/depressi. Banyaknya saudara-saudara caleg kita yang tidak bisa mencapai target yang diinginkan sehingga membuat mereka jatuh. Hingga hilangnya keyakinan pada diri sendiri, kepribadian hidup dan pegangan hidupnya, yang menyebabkan batin mereka semakin menderita. Problem semacam ini sekarang banyak kita jumpai didalam masyarakat, keluarga maupun didalam diri pribadi seseorang. Wajib bagi mereka, yang mengalami goncangan batin ini, harus mencari solusi agar problem itu tidak semakin parah. Apabila dibiarkan begitu saja tanpa mencari solusi yang tepat, maka problem itu akan menyebabkan mereka menjadi gila. Apabila sudah menjadi demikian, sulit bagi kita untuk menyembuhkannya. Kondisi ini sangat disayangkan, namun kebanyakan orang, yang sedang mengalami problem ini kadang-kadang mencari jalan keluar yang kurang tepat, mereka berharap dapat menemukan jalan keluar pada;

- Diri orang lain, misalnya; Ayah, Ibu, atupun family.

- Harta benda, kekayaan

- Kekuasaan, pangkat

- Organisasi

- Makanan. Minuman termasuk minuman keras, obat-obatan terlarang dll.

Sudah tepatkah mereka bersandar pada kondisi itu? Sudah benarkah pegangan yang mereka cari untuk membahagiakan batin mereka yang sedang kacau dan menderita? Semua itu adalah tempat yang kurang aman dan kurang tepat, mengapa demikian? Karena didalam diri orang lain maupun benda-benda, pangkat atupun makanan dan minuman tidak bisa menjadi pegangan yang sesungguhnya. Batin semua orang sebenarnya sama, hanya terdiri dari getaran-getaran dari pikiran, ingatan, perasaan dan kesadaran. Misalnya; orang tua kita sendiri, yang pikirannya selalu berubah dan perasaannya tidak selalu tetap. Kadang kalu mereka sedang marah, mereka tidak ingat lagi kepada kita (anak). Apa yang telah diberikan terasa hilang disaat syndrome itu muncul. Orang tua kita yang selalu mengasihi, melindungi, membimbing, dan menyayangi kita, tetapi ketika mereka marah, mereka tidak segan-segan membentak kita, memarahi kita, menendang, mengabaikan dan bahkan mengusir kita. Dengan demikian, didalam diri orang lain tidak dapat kita temukan pegangan yang kokoh atu kuat untuk kita. Lalu, bila demikian, dimanakah sebenarnya tempat yang bisa menjadi pegangan dan sandaran kita yang aman? Terutama bagi kita yang sedang mengalami problem yang berat. Ada tiga macam tempat sandaran yang kokoh dan tidak berubah, bagi mereka yang mengalami goncangan-goncangan tersebut, yaitu;

1. SILA : Perilaku yang baik atau Moralitas. Usahakan untuk bisa menerapkan sandaran ini didalam kehidupan kita. Kondisi ini yang menjadikan hidup kita bebas dari kesalahan-kesalahan yang bisa dicela maupun dibenci orang lain. Sehingga suatu saat bisa menyakiti dan mencelakakan diri sendiri.

Yang termasuk disini adalah;

- ucapan (berbohong, omong kosong, berdusta)

- perbuatan (pencurian, pembunuhan, berzinah)

- Mata pencaharian (mengeluarkan kata-kata kasar, tidak menjual belikan barang

yang tidak benar secara hokum)

2. SAMADHI: Ketengan pikiran/ batin dan memiliki perhatian yang prima. Usahakan untuk selalu sadar akan semua tindakan kita.

Yang termasuk disini adalah;

-Usaha ( berusaha menimbulkan hal-hal yang baik, berusaha melenyapkan hal-hal

yang jelek)

-Perhatian (tidak lalai atau lengah)

- Konsentrasi (pikiran menyatu kearah yang benar dan tenang)

3. PANNA: Kebijaksanaan

Yang termasuk disini adalah;

-Pengertian benar (wawasan/ perhatian)

-Dan memiliki pikiran yang benar

Artinya, kita tahu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, yang bermanfaat dan tidak, yang terpuji atau tidak serta mempunyai pikiran yang mampu melepas ikatan, baik terhadap kesenangan, kebencian, keuntungan maupun kerugian. Hanya pada tiga sandaran itulah, SIla, Samadhi dan panna, seseorang akan dapat menemukan pegangan hidup atau sandaran hidup yang benar, kuat, kokoh dan tidak akan berubah. Dari ketiga factor inilah kita dapat simpulkan bahwa;

SILA : Dapat dipakai atau diaplikasikan sebagai alat untuk mencegah penderitaan batin seperti stress, goncangan atau kekacauan batin. Dengan melaksanakan sila, seseorang akan terhindar dari kemungkinan timbulnya penderitaan batin.

SAMADHI : Dapat diaplikasikan untuk mengatasi timbulnya suatu penderitaan yang sedang dialami. Dengan mengembangkan Samadhi, seseorang juga akan merasa tenang dan nyaman serta merasakan kebahagiaan baik jasmani maupun batin, dengan syarat menjalankan Samadhi dengan benar.

PANNA : Dapat diaplikasikan sebagai alat untuk menyembuhkan atau mengobati penderitaan batin, stress yang berkepanjangan.

Dengan memahami tentang hakekat hidup yang benar dan selalu berupaya tidak melekat dan mampu melepas apa yang sudah terjadi. Uang yang banyak karena mencalonkan diri tentunya menjadi problem bagi caleg-caleg kita, sehingga mereka harus berani dan mampu untuk melupakannya saat ini juga. Tidak ada gunanya menyesali apa yang telah terjadi, semua itu tidak akan kembali lagi kecuali kalo kita berusaha kembali, maka kita akan bisa mendapatkannya kembali. Ketika kita berani melepas, berangsur-angsur goncangan-goncangan, tekanan dan kekacauan batin yang kita derita, akan bisa terkikis dengan sendirinya. Kadang kita bisa lalai dalam menjalankan sila, Samadhi dan Panna. Sehingga timbullah noda-noda batin yang semakin kuat, nah perlu bagi kita untuk mendalami Buddhadhamma dan berusahauntuk mendengarkan dhamma, tak kalah pentingnya untuk mempraktekkannya. Buddha menyatakan didalam Dhammapada “ jadikanlah dirimu sebagai pulau bagi dirimu sendiri”. Kata-kata itu sangatlah tepat untuk direnungkan dan diselami sehingga pada akhirnya kita akan merasakan indahnya dhamma, yang sebelumnya belum pernah kita rasakan. Renungkanlah hal itu setiap saat agarkita benar-benar memperoleh pegangan yang kuat, kokoh dan tak tergoyahkan. Semoga dengan usaha baik kita, kebahagiaan dan kedamaian akan melimpahkan didalam kehidupan kita. Semoga dhamma tetap lestari didunia ini.

Semoga semua makluk berbahagia

Sutra Bakti Seorang Anak

Posted On : August 12th, 2009 by admin

Demikianlah yang aku dengar, Suatu ketika Hyang Buddha berdiam di shravasti, di Hutan Jeta, di Taman Pelindung Anak – anak Yatim Piatu dan Para Pertapa, bersama sama dengan sekumpulan Mahabhikshu, yang seluruhnya berjumlah seribu dua ratus lima puluh dan dengan semua bodhisattva, jumlahnya tiga puluh delapan ribu semuanya.

Pada waktu itu, Hyang Bhagava memimpin kumpulan besar itu dalam perjalanan menuju selatan. Tiba tiba mereka menjumpai seonggok tulang manusia di samping jalan. Hyang Bhagava berpaling menghampirinya, dan bersikap anjali dengan penuh hormat.

Ananda dengan bersikap anjali kemudian bertanya kepada Hyang Bhagava, “Tathagata adalah guru agung dari Triloka dan bapak yang terkasih dari makhluk – makhluk yang berasal dari empat jenis kelahiran. Beliau dihormati dan dicintai seluruh umat. Apakah sebabnya kini beliau menghormati seonggok tulang – tulang kering ?”

Hyang Buddha berkata kepada Ananda, “Meskipun engkau adalah siswaku yang utama dan telah cukup lama menjadi anggota Sangha, engkau masih belum mencapai pengertian yang jauh. Onggokan tulang itu mungkin adalah milik para leluhur pada kehidupan masa lampau. Meraka mungkin adalah orang tuaku dalam banyak kehidupan yang telah lalu. Itulah sebabnya sekarang aku bersujud”

Hyang Buddha melanjutkan pembicaraanny, “ Tulang – tulang yang kita lihat ini dapatlah dibagi menjadi dua kelompok. Yang satu adalah tulang tulang lelaki, yang berat dan putih warnanya. Kelompok yang lain adalah tulang – tulang perempuan, yang ringan dan berwarna hitam”

Ananda berkata kepada Hyang Buddha, “ Duhai Hyang Bhagava, sewaktu para lelaki masih hidup di dunia, meraka menghiasi badan dengan jubah, pengikat pinggang, sepatu, topi dan pakaian – pakaian indah lainnya sehingga mereka jelas – jelas nampak perkasa. Ketika perempuan masih hidup, mereka mengenakan kosmetik, minyak wangi, bedak dan wangi wangian yang menarik untuk menghiasi tubuh mereka , sehingga dengan jelas menampakkan kewanitaannya. Namun tatkala para lelaki dan perempuan itu meninggal, semua yang tertinggal adalah tulang – tulang. Bagaimana seseorang dapat membedakannya ? Ajarilah kami bagaimana membedakannya.

Hyang Buddha menjawab Ananda, “Ketika para lelaki ada di dunia, mereka memasuki rumah ibadah, mendengarkan penjelasan – penjelasan tentang sutra sutra dan vinaya, menghormati Hyang Triratna dan menyebut nama – nama Buddha. Tatkala mereka meninggal tulang – tulangnya menjadi berat dan putih warnanya. Kebanyakan wanita dalam dunia mempunyai sedikit kebijaksanaan dan dipenuhi emosi. Mereka melahirkan dan membesarkan anak – anak, merasakan sebagai kewajiban. Setiap anak bergantung pada air susu ibunya demi kehidupan dan makanan, dan susu adalah darah ibunya yang telah berubah. Oleh karena penghisapan ( penyedotan ) dari badan ibu ini saat anak mengambil susu untuk makanannya, ibu menjadi letih dan menderita dan karenanya tulang – tulang mereka berubah menjadi hitam dan ringan.”

Ketika Ananda mendengar kata – kata ini, Ia merasakan kepedihan dalam hatinya, karena seolah olah telah tertusuk pedang dan karenanya ia diam – diam menangis. Ia mengatakan kepada Hyang Bhagava,” Bagaimana caranya seseorang dapat membalas kasih dan kebajikan ibunya?”

Hyang Buddha mengatakan kepada Ananda, “ Dengarlah baik – baik dan Aku akan jelaskan hal ini kepadamu dengan terperinci. Janin tumbuh dalam kandungan selama sepuluh bulan perhitungan chandra sangkala. Alangkah menderitanya ibu selama janin berada di situ.

Pada bulan pertama kehamilan, hidup janin tidaklah menentu seperti titk embun pada daun yang kemungkinan tidak akan bertahan dari pagi hingga sore, tetapi akan menguap pada tengah hari.

Pada bulan kedua , janin menjadi kental seperti susu kental,

Pada bulan ketiga Ia seperti darah mengental, Pada bulan keempat janin mulai berwujud sedikit seperti manusia.

Selama bulan kelima dalam kandungan, kelima anggota badan anak ( dua kaki, dua tangan dan kepala ) mulai terbentuk.

Pada bulan keenam kehamilan, anak mulai mengembangkan inti keenam alat inderanya yaitu mata, telinga, hidung, lidah badan, dan pikiran.

Selama bulan ketujuh, ketiga ratus enam puluh tulang – tulang dan persendian mulai terbentuk. Dan kedelapan puluh empat ribu pori pori rambut juga telah sempurna.

Dalam bulan kedelapan kehamilan, kecerdasan dan kesembilan lubang terbentuk. Pada bulan kesembilan, janin telah belajar menyerap sari buah buahan, dan kelima macam padi padian. Bagian dalam tubuh ibu adalah organ yang padat untuk fungsi menyimpan dan ia bergantung ke arah bawah, sedangkan organ dalam yang hampa berguna untuk mengolah, dan ia melingkar ke arah atas. Ini disamakan dengan ketiga gunung yang terbit dari permukaan bumi. Kita boleh menyebut gunung – gunung ini Puncak Sumeru, Gunung Karma, dan Gunung Darah. Gunung – gunung analogi ini bersatu dan membentuk satu gugusan dengan puncak – puncak ke sebelah atas dan lembah – lembah kesebelah bawah. Begitu jugalah pembekuan darah ibu dari organ organ dalamnya membentuk zat tunggal yang menjadi makanan anak. Selama bulan kesepuluh kehamilan, badan janin disempurnakan dan siap untuk dilahirkan.

Bila anak itu sangat berbakti dia akan lahir dengan telapak tangan disatukan sebagai tanda menghormat dan kelahiran itu akan aman dan baik. Ibunya tidak akan terluka oleh kelahiran itu dan tidak akan menderita kesakitan. Tetapi bila anak itu sangat pemberontak sifatnya hingga melakukan kelima perbuatan jahat, maka dia akan merusak kandungan ibunya, mengoyak jantung dan hati ibunya, akan tersangkut di tulang – tulang ibunya.

Kelahiran itu akan seperti sayatan seribu pisau tajam menikam jantungnya. Itulah kesakitan – kesakitan yang terjadi dalam kelahiran anak nakal dan yang pembangkang.
Untuk menjelaskan lebih jelas ada sepuluh jenis kebaikan yang diperbuat oleh seorang ibu kepada anaknya:

1. Kebaikan didalam memberikan perlindungan dan penjagaan selama anak dalam kandungan
Sebab sebab dan kondisi kondisi dari banyak kalpa yang terkumpul bertumbuh menjadi berat, sehingga dalam hidup ini anak berakhir dalam kandungan ibunya.
Dengan berlalunya bulan , kelima organ penting berkembang dalam waktu tujuh minggu, keenam alat indera mulai tumbuh, Badan ibu menjadi seberat gunung, diamnya dan gerakan – gerakan janin adalah laksana bencana angin kalpic.
Baju baju ibu yang cantik tidak dapat dipakai dengan baik lagi dan begitu juga cerminnya pun berdebu.

2. Kebaikan dalam menanggung penderitaan selama kehamilan.
Kehamilan berlangsung selama sepuluh bulan penanggalan Chandra Sangkala dan puncaknya adalah kesulitan dengan semakin dekatnya kelahiran. Sementara itu setiap pagi ibu merasa sangat sakit, dan sepanjang hari terasa mengantuk dan lamban, ketakutan dan kegelisahannya sukar dilukiskan, kesedihan dan air mata memenuhi dadanya. Dia dengan khawatir mengatakan kepada keluarganya bahwa ia hanya takut maut akan menimpa dirinya.

3. Kebaikan untuk melupakan semua kesakitan begitu anak telah dilahirkan.
Pada saat ibu akan melahirkan anak, kelima organ tubuh terbuka lebar, menyebabkan ia sangat letih dalam badan dan pikiran, darah mengalir laksana seekor domba yang disembelih, tetapi ketika mendengar anaknya terlahir sehat, dia dipenuhi dengan kegembiraan yang melimpah, tetapi sesudah kegembiraan, kesedihan datang kembali, dan rasa sakit kembali mengaduk aduk bagian dalam tubuhnya.

4. Kebaikan dari memakan bagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan bagian yang manis bagi anak.
Kebaikan kedua orang tua sangat besar dan dalam, penjagaan dan pengabdiannya tidak pernah berhenti, tidak pernah beristirahat, ibu senantiasa menyimpan yang manis untuk anak, dan tanpa mengeluh menelan yang pahit bagi dirinya. Cintanya amat besar dan emosinya sukar tertahankan, Kebaikannya adalah mendalam dan begitu juga kasihnya. Hanya menginginkan anak mendapat cukup makanan, Ibu yang kasih tidak membicarakan kelaparannya sendiri.

5. Kebaikan untuk memindahkan anak ke tempat yang kering dan dirinya sendiri berbaring di tempat yang basah.
Ibu rela berada di tempat yang basah agar dengan demikian anak dapat berada di tempat yang kering. Dengan kedua payudaranya ia memuaskan rasa haus dan lapar sang anak.
Menutupi dengan kainnya, dia melindungi anak dari angin dan dingin. Dalam kebaikannya, kepala ibu jarang lega diatas bantal, dan bahkan ia melakukan dengan gembira selama anak dapat merasa senang.

6. Kebaikan menyusukan anak pada payudaranya dan memberi makan dan membesarkan anak.
Ibu yang baik adalah bagaikan bumi yang besar, Ayah yang tegar adalah laksana langit yang mengasihi. Yang satu melindungi dari atas yang lainnya menunjang dari bawah.
Kebaikan orang tua adalah sedemikian rupa sehingga mereka tidak membenci dan marah pada anaknya, dan tetap menyukainya sekalipun anak terlahir lumpuh. Sesudah ibu mengandung anak dan melahirkannya, Orang tua bersama sama memelihara dan melindungi sampai akhir hayatnya.

7. Kebaikan dalam membersihkan yang kotor.
Mula mula ibu mempunyai wajah yang cantik dan tubuh yang indah, semangatnya kuat dan bergelora, Alis matanya seperti daun willow hijau yang segar dan warna kulitnya bagaikan mawar merah jambu. Tetapi kebaikan ibu begitu mendalam sehingga ia melepaskan wajah yang cantik, sekalipun mencuci yang kotor merusak badannya, Ibu yang baik bertindak hanya demi untuk kepentingan putra putrinya, dan dengan rela menerima kecantikannya yang memudar.

8. Kebaikan dari selalu memikirkan anak bila dia berjalan jauh.
Kematian dari orang yang dicintai sukar terlukiskan penderitaannya, tetapi berpisah dari orang yang dikasihi juga sangat menyakitkan. Bila anak berjalan jauh, Ibu merasa khawatir di kampungnya. Dari pagi hingga malam hatinya selalu bersama anaknya. Dan air mata berderai jatuh dari matanya.
Sedikit demi sedikit hatinya hancur.

9. Kebaikan karena kasih sayang yang dalam dalam pengabdian.
Alangkah besarnya kebaikan orang tua dan gejolak emosinya, kebaikannya mendalam dan sukar membalasnya, dengan rela mereka menderita untuk kepentingan anaknya. Bila anak bekerja berat, orang tua pun merasa tidak senang. Bila mereka mendengar bahwa dia berjalan jauh, mereka khawatir bahwa pada waktu malam sang anak berbaring kedinginan. Bahkan kesakitan sebentar yang diderita putra putrinya akan menyebabkan orang tua lama bersusah hati.

10. Kebaikan karena rasa welas asih yang dalam dan simpati.

Kebaikan orang tua adalah besar dan penting, perhatiannya yang lemah lembut tidak pernah berhenti dari saat mereka bangun tiap pagi, pikiran mereka adalah pada anaknya. Apakah anak anak dekat atau jauh , orang tua selalu memikirkan mereka, sekalipun seorang ibu hidup untuk seratus tahun, dia akan selalu mengkhawatirkan anaknya yang berumur delapan puluh tahun.

Inginkah anda mengetahui bilakah kebaikan rasa cinta yang demikian itu berakhir?
Ia bahkan tidak pernah berkurang hingga akhir hidupnya.

Hyang Buddha berkata kepada Ananda,” Bila aku merenung tentang makhluk makhluk hidup, aku melihat bahwa sekalipun mereka dilahirkan sebagai manusia, mereka adalah bodoh dan dungu dalam pikiran – pikiran dan tindakan – tindakan mereka. Mereka tidak mempertimbangkan kebaikan dan kebajikan orang tua mereka. Mereka tidak menghormati dan melupakan kebaikan dan apa yang benar. Mereka kurang manusiawi dan kurang berbakti ataupun patuh pada orang tua.

Selama sepuluh bulan ibu mengandung anak, dia merasakan kesusahan setiap kali dia bangun, seolah olah ia mengangkat beban yang berat. bagai seorang cacat yang parah, dia tak mampu menelan makanan dan meminum. Bila waktu sepuluh bulan telah berlalu dan waktu melahirkan telah datang, dia menderita segala macam kesakitan dan penderitaan supaya anak dapat dilahirkan. Dia takut akan kematiannya seperti seekor babi atau domba menunggu untuk disembelih. kemudian darah darah mengalir diatas tanah. Inilah penderitaan penderitaan yang dialaminya.

Setelah anak lahir, dia menyimpan apa yang manis untuk anak dan menelan yang pahit bagi dirinya sendiri. Dia menggendong anak dan memberinya makan serta membersihkan kotorannya. Tiada pekerjaan atau kesukaran yang tidak bersedia dia kerjakan demi kepentingan anaknya. Dia menahan baik rasa dingin dan panas dan tiada pernah menyebutkan apa yang telah dialaminya. Dia memberikan tempat yang kering untuk anaknya dan ia sendiri tidur di tempat yang lembab.

Orang tua terus menerus mengajar dan membimbing anak anaknya tentang apa yang patut dan bermoral, selama anak tumbuh menjadi dewasa. Mereka mengatur perkawinan bagi anak anaknya dan menyediakan harta benda dan kekayaan atau mengusahakan cara cara untuk mendapatkannya bagi anak anak mereka. Mereka bertanggung jawab dan bersusah susah sendiri dengan kerja dan semangat yang besar dan tiada pernah membicarakan kasih sayang dan kebaikan mereka.

Bial putra putrinya sakit, orang tua khawatir dan takut sehingga mereka sendiri mungkin jatuh sakit. Mereka berada disamping anak, terus menerus menjaganya dan hanya bila anak sembuh orang tua menjadi gembira sekali.

Dengan cara ini mereka menjaga dan membesarkan anak – anaknya dengan harapan yang terus menerus bahwa keturunan mereka akan segera menjadi dewasa. Alangkah sedihnya bila acapkali anak anaknya justru tidak berbakti, sebagai balasannya bila berbicara dengan sanak saudara yang seharusnya mereka hormati, anak – anak tidak mau menunjukan kepatuhan mereka. Ketika mereka seharusnya bersikap hormat, mereka malah tidak mau bertingkah laku baik. Mereka mendelik kepada orang yang seharusnya mereka segani dan menghina paman dan bibi mereka. Mereka memarahi saudara saudaranya dan menghancurkan perasaan kekeluargaan yang ada diantara mereka.

Anak- anak seperti itu tidak mempunyai rasa hormat atau perasaan yang patut. Anak anak mungkin bisa diajar dengan baik, tetapi mereka tetap tidak berbakti, mereka tidak akan memperdulikan pengajaran atau mematuhi aturan aturan. Jarang sekali mereka menuruti bimbingan orang tua mereka , mereka menentang dan membangkang bila bergaul dengan saudara saudara mereka. Mereka datang dan pergi dari rumah tanpa memberitahu kepada orang tua. Kata kata dan tindakannya sangat sombong dan mereka bertindak tiba tiba tanpa membicarakannya dengan yang lain. Anak anak yang demikian tidak mengacuhkan teguran dan hukuman yang dibuat oleh orang tuanya.

Kebajikan dan kebaikan orang tua sungguh luas dan tidak terbatas, Bila seseorang berbuat kesalahan karena tidak berbakti, alangkah sukar membayar kembali kebaikan itu. Pada ketika itu, setelah mendengar Hyang Buddha berbicar tentang dalamnya kebaikan orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu menjatuhkan diri mereka ke tanah dan mulai memukuli dada mereka dan menghempaskan diri mereka hingga semua pori pori mereka mengeluarkan darah, Beberap orang pingsan diatas tanah, sedangkan yang lain menghentakan kakinya dalam kesedihan. Lama baru mereka dapat mengatasi diri mereka .

Dengan suara keras mereka meratap, “Alangkah menderitanya Alangkah sakitnya, kami semua bersalah. Kami adalah penjahat yang tidak pernah sadar , seperti mereka yang berjalan di malam yang gelap. Kami baru sekarang menyadari kesalahan kesalahan kami dan hati kami tercabik cabik. Kami hanya berharap bahwa Hyang Bhagava mengasihi dan menyelamatkan kami. Mohon ajarilah kami bagaimana mengembalikan kebikan yang mendalam dari orang tua kami.”

Pada waktu itu Tathagata memakai delapan macam suara yang sangat dalam dan bersih , seraya berkata kepada kumpulan besar itu,” Anda semua harus mengetahui ini, sekarang Kujelaskan beberapa segi dari hal ini”

“Bila ada seseorang yang mengangkat ayahnya dengan bahu kirinya dan ibunya dengan bahu kanannya, dan oleh karena beratnya menembus tulang sumsumnya sehingga tulang – tulangnya hancur menjadi debu, dan orang tersebutmengelilingi puncak sumeru seratus ribu kalpa lamanya sehingga darah yang keluar dari kakinya membasahi pergelangan kakinya, orang tersebut belum cukup membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya”

“Bila ada seseorang yang selama waktu satu kalpa yang penuh dengan kesukaran dan kelaparan, memotong sebagian dari daging badannya sendiri untuk memberi makan orang tuanya dan ini diperbuatnya sebanyak debu yang ia lalui dalam perjalanan seratus ribu kalpa, orang itu belum membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya”

“Bila ada satu orang yang demi orang tuanya, mengambil sebuah pisau yang tajam dan mencungkil kedua belah matanya dan mempersembahkannya kepada Tathagata, dan terus melakukannya hingga beratus ratus ribu kalpa, orang tersebut masih tetap belum membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya”

“Bila ada orang yang demi ayah dan ibunya mengambil sebuah pisau tajam dan mengeluarkan jantung dan hatinya sehingga darah mengucur dan menutupi tanah dan dia melakukan ini dalam beratus ribu kalpa, tiada sekalipun mengeluh tentang kesakitannya, orang tersebut masih tetap belum membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya”

“Bila ada orang yang demi orang tuanya , menghancurkan tulang tulangnya sendiri sampai ke sumsum dan melakukan ini hingga beratus ribu kalpa , orang itu tetap belum membalas kebaikaan yang besar dari orang tuanya”

Bila ada orang yang demi orang tuanya menelan butiran – butiran besi yang mencair dan berbuat demikian hingga beratus ribu kalpa , orang itu tetap belum dapat membalas kebaikan yang mendalam dari orang tuanya”

Pada waktu itu, ketika mendengar Buddha membicarakan kebaikan dan kebajikan orang tua, setiap orang alam kumpulan besar iru menangis diam diam dan merasakan kepedihan dalam hatinya. Mereka merenungkannya dan segera merasa malu dan berkata kepada Hyang Bhagava, “Oh, Hyang Bhagava, bagaimana kami dapat membalas kebaikan yang dalam dari orang tua kami?” Hyang Buddha menjawab,” Wahai sisawa siswa Buddha, bila engkau ingin membalas kebaikan orang tuamu, tulislah sutra ini untuk mereka , Kumandangkanlah sutra ini untuk mereka, bertobatlah atas pelanggaran pelanggaran dan kesalahan kesalahan demi mereka. Untuk kepentingan orang tua berikanlah persembahan kepada Hyang Triratna, demi orang tua patuhlah kepada perintah untuk hanya memakan makanan suci dan bersih. Demi orang tua biasakanlah berdana dan mencari keberkahan, Bila engkau dapat melakukan ini engkau adalah anak yang berbakti, Bila engkau tidak melakukannya, engkau adalah orang yang akan menuju pada alam sengsara.

” Hyang Buddha mengatakan kepada Ananda,” Bila seseorang tidak berbakti ketika hidupnya berakhir dan badannya membusuk, dia akan jatuh kedalam neraka avici yang tidak terbatas. Neraka yang besar ini kelilingnya delapan puluh ribu yojana, dan dikelilingi dinding besi pada keempat sisinya. Diatasnya ditutup oleh jaring jaring dan lantainya juga terbuat dari besi. Api akan membakar dengan berkobar kobar, sementara itu petir bergemuruh dan sambaran kilat yang berapi api akan membakar. Perunggu yang cair dan cairan besi akan disiramkan keatas badan orang – orang yang bersalah.

Anjing – anjing perunggu dan ular ular besi terus menerus memuntahkan api dan asap yang membakar orang – orang bersalah an memanggang badan dan lemaknya hingga menjadi bubur” “Oh, penderitaan yang hebat! sukar menahankannya, sukar menanggungkannya, Ada galah , pengait, lembing- lembing, tombak – tombak besi dan rantai besi, pemukul – pemukul dari besi dan jarum – jarum besi. Roda – roda dari pisau besi turun bagai hujan dari udara. Orang yang bersalah itu dicincang, dipotong atau ditikam dan mengalami hukuman – hukuman yang mengerikan ini selama berkalpa – kalpa tidak henti – hentinya. Kemudian mereka memasuki neraka berikutnya, dimana kepala mereka akan ditutupi dengan mangkok -mangkok yang panas sekali, sedangkan roda – roda besi akan menggilas badan mereka secara mendatar dan tegak lurus sehingga perut mereka pecah dan daging seta tlang tulangnya menjadi lebur.

Dalam satu hari mereka akan mengalami beribu ribu kelahira dan kematian. Penderitaan – penderitaan yang demikian adalah akibat melakukan kelima perbuatan jahat dan karena tidak berbakti selama seseorang masih hidup.

Pada waktu itu, Setelah mendengar Hyang Buddha membicarakan sutra tentang kebajikan orang tua, setiap orang dalam kumpulan besar itu menangis dengan sedihnya dan berkata kepada Tathagata, ” Pada hari ini, bagaimana kami dapat membalas kebaikan yang dalam dari orang tua kami?” Hyang Buddha berkata “Wahai siswa siswa Buddha, bila engkau ingin membalas kebaikan kebaikan mereka, maka demi mereka salinlah sutra ini, bila sesungguhnya membalas kebaikan mereka.

Bila seseorang dapat menyalin satu saja, maka ia akan melihat satu Buddha, Bila seseorang dapat menyalin sepuluh buku maka ia akan melihat 10 Buddha, Bila seseorang dapat menyalin seratus, maka ia akan bertemu dengan 100 Buddha, Bila seseorang menyalin 1000, maka ia akan melihat 1000 Buddha, Bila seseorang dapat menyalin 10.000, maka ia akan melihat 10.000 Buddha. Inilah kekuatan yang diperoleh bila orang orang saleh menyalin sutra, semua Buddha akan selamanya melindungi orang yang demikian itu dan dapat segera menyebabkan orang – orang tua mereka lahir kembali di surga, untuk menikmati segala kebahagiaan dan meninggalkan penderitaan – penderitaan mereka.

Pada ketika itu, Ananda dengan agung dan perasaan damai, bangkit dari tempat duduknya dan bertanya kepada Hyang Buddha, “Hyang Bhagava, apakah nama sutra ini bila kami mengikutinya dan menjaganya?
Hyang Buddha berkata kepada Ananda, sutra ini disebut “SUTRA KASIH YANG MENDALAM DARI ORANG TUA DAN KESULITAN MEMBALASNYA” pakailah nama ini bila engkau mengikutinya dan menjaganya.”

Pada ketika itu, kumpulan besar itu, Dewa Dewa, Manusia Manusia, Asura, dan lain lainnya, mendengar apa yang telah dikatakan oleh Hyang Buddha, betul betul merasa gembira. Mereka mempercayainya, menerimanya dan menyesuaikannya dengan tingkah laku mereka dan kemudian menunduk hormat dan berlalu.

Hukum Karma

Posted On : August 12th, 2009 by admin

Sang Buddha bersabda : ” Sesuai dengan benih yang ditanam, itulah buah yang akan Anda peroleh. Pelaku kebaikan akan mengumpulkan kebaikan. Pelaku keburukan, memperoleh keburukan. Jika Anda menanamkan benih yang baik, maka Anda menikmati buah yang baik.” (Samyutta Nikaya I, 227).

Ketika seseorang sedang bahagia dan bersuka cita, dia cenderung menilai hidup ini menyenangkan. Tetapi jika seseorang sedang menderita, maka dia akan menilai hidup ini sangat sulit, sehingga dia akan mulai mencari alasan dan cara untuk menanggulangi kesulitan tersebut.

Kita cenderung bertanya, kenapa ada yang dilahirkan miskin dan menderita, sedangkan yang lainnya dilahirkan dalam berbagai keberuntungan. Kita merasa tidak mampu untuk bisa hidup sebagaimana yang diidamkan, yaitu mengalami hidup yang selalu bahagia. Sebagian orang percaya bahwa ini karena nasib, kesempatan, atau suatu kekuasaan yang tidak kelihatan diluar pengendalian kita. Akibatnya kita cenderung menjadi bingung dan putus asa. Bagaimanapun Sang Buddha mampu menjelaskan kenapa ada orang yang dilahirkan berbeda keadaannya, dan kenapa sebagian orang lebih beruntung dalam menjalani kehidupan dari yang lainnya.

Sang Buddha mengajarkan, bahwa suatu kondisi yang terjadi sekarang apakah bahagia atau menderita adalah merupakan hasil akumulasi perbuatan yang dilakukan sebelumnya atau disebut karma. Sang Buddha mengatakan bahwa semua makhluk hidup mempunyai karma mereka sendiri, warisan mereka , sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka. Karmalah yang membedakan setiap makhluk hidup itu dalam keadaan rendah atau tinggi.

Karma berasal dari kata Sanskerta [Pali; kamma] yang berarti tindakan, pekerjaan atau perbuatan. Setiap perbuatan, ucapan atau pikiran yang dilakukan dengan suatu tujuan atau niat dapat disebut karma. Karma berarti suatu kehendak atau niat [cetana] yang baik [kusala] dan buruk [akusala]. Setiap tindakan yang kita lakukan apabila berdasarkan suatu niat maka akan menciptakan karma.

Sang Buddha bersabda :”Aku nyatakan, O para Bhikkhu, bahwa niat [cetana] itulah Kamma, dengan niat seseorang bertindak melalui badan jasmani, ucapan dan pikiran.” (Anguttara Nikaya III,I-117).

Dengan kata lain, Karma merupakan suatu hukum moral sebab-akibat, suatu hukum alam dimana menjelaskan bahwa setiap tindakan akan membuahkan hasil tindakan tertentu atau buah karma [karma vipaka] . Sehingga apabila seseorang melakukan perbuatan mulia seperti memberikan sumbangan kepada suatu yayasan kemanusiaan, maka dia akan merasakan kebahagiaan. Sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu perbuatan yang tercela, misalnya membunuh makhluk hidup, maka dia akan merasakan penderitaan. Sehingga dapat disimpulkan, akibat dari perbuatan karma sebelumnya menentukan keberadaan orang tersebut pada kehidupan saat ini. Karma dapat dikategorikan menurut matangnya, yaitu karma yang matang pada kehidupan ini, karma yang matang pada kehidupan berikutnya dan karma yang matang pada beberapa kehidupan yang akan datang.

Sang Buddha bersabda : ” Pembuat kejahatan hanya melihat hal yang baik selama buah perbuatan jahatnya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatan jahatnya telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang buruk. Pembuat kebajikan hanya melihat hal yang buruk selama buah perbuatan bajiknya belum masak, tetapi bilamana hasil perbuatannya itu telah masak, ia akan melihat akibat-akibatnya yang baik.” (Dhammapada, 119 – 120 ).

Tiga komponen yang merupakan pelaku utama karma adalah tubuh fisik, ucapan dan pikiran. Contoh karma yang dilakukan oleh tubuh fisik, yaitu membunuh, mencuri dan berjinah. Contoh karma yang dilakukan oleh ucapan, yaitu berbohong, membicarakan hal-hal yang tidak bermanfaat, memfitnah dan berbicara kasar. Sedangkan contoh karma yang dilakukan oleh pikiran adalah keserakahan, kebencian dan khayalan. Karma dapat dibedakan atas karma yang bermanfaat, karma yang tidak bermanfaat dan karma yang bukan bermanfaat maupun tidak bermanfaat.

Akibat dari karma buruk adalah tumimbal lahir di tiga alam penderitaan (neraka, hantu kelaparan dan binatang). Contoh karma buruk yang dapat menyebabkan seseorang terlahir di alam neraka antara lain: membunuh orangtua kandung, membunuh orang suci/ Arahat/ Bodhisattva, dan melukai Buddha. Sedangkan akibat dari karma baik adalah tumimbal lahir di alam manusia atau surga. Sedangkan para Buddha, Arahat dan Bodhisattva yang sudah mencapai Pencerahan Sempurna memperoleh karma tidak bergerak, namun Bodhisattva yang karena welas-asihnya untuk menyeberangkan semua makhluk yang menderita dapat saja bertumimbal lahir lagi di alam manusia .

Sebab utama timbulnya karma adalah karena ketidak-tahuan [avidya/avijja] atau ketidak-mampuan untuk memahami segala sesuatu sebagaimana adanya. Nafsu keinginan [tanha] juga merupakan akar timbulnya karma. Perbuatan seseorang walaupun dilandasi oleh tiga akar kebajikan yaitu kedermawan [alobha], kehendak baik [adosa] dan pengetahuan [amoha], tetap dapat dianggap sebagai karma karena dua unsur penyebab karma yaitu ketidak-tahuan dan keinginan masih melekat dalam dirinya. Hanya perbuatan baik dari Jalan Kesadaran [maggacitta] yang dapat dipandang sebagai proses untuk menghancurkan akar sebab-akibat karma tersebut.

Apakah Kita Harus Pasrah Terhadap Karma?

Pemuda Subha menghadap Sang Buddha untuk menanyakan perbedaan nyata di antara umat manusia, “Apakah alasannya dan sebabnya, o Guru, kita jumpai di antara umat manusia ada yang berumur pendek dan berumur panjang, berpenyakit dan sehat, jelek dan rupawan , tak berpengaruh dan berpengaruh, miskin dan kaya, hina dan mulia, dungu dan bijaksana.”

Sang Buddha bersabda : “Semua mahluk hidup mempunyai karma sebagai milik mereka, warisan mereka, sebab awal mereka, kerabat mereka, pelindung mereka. Karma itulah yang membedakan makhluk hidup dalam keadaan rendah atau tinggi.” (Majjhima Nikaya, Cullakammavibhanga Sutta, 135)

Membaca uraian di atas tentang karma seolah-olah mencerminkan bahwa manusia itu haruslah pasrah dan menerima keadaan hidupnya. Di satu sisi memang mencerminkan kenyataan tersebut, namun dalam sudut pandang yang optimis, tidaklah seharusnya demikian. Sebagai manusia duniawi [prthagjana/puthujjana] , tentunya sangat sulit untuk kita dapat seluruhnya terbebas dari suatu perbuatan baik ataupun buruk. Meskipun kita merupakan tuan dari karma kita sendiri tetapi terbukti bahwa adanya faktor yang meniadakan atau yang menunjang berbuahnya karma yang dapat juga dipengaruhi oleh keadaan luar, lingkungan, kebiasaan, usaha yang tekun dan konsentrasi pikiran yang baik.

Dalam kehidupan Buddha Gautama juga tercatat banyak penjahat dan bahkan pelacur yang karena `dicerahkan’ oleh Yang Telah Tercerahkan, maka seketika dapat mencapai tingkat kesucian batin tertentu.

Sang Buddha Mencerahkan

Angulimala, seorang perampok jalanan dan pembunuh yang mempunyai hobby koleksi kelingking manusia yang dibunuhnya, pada suatu saat bertemu Sang Buddha dan bermaksud menggenapkan koleksinya menjadi 1000 buah. Maka diapun menghadang Sang Buddha dan bermaksud membunuhNya. Angulimala yang terkenal lincah dalam bergerak, tetap tidak bisa menyentuh tubuh Sang Buddha yang kelihatan sama sekali tidak bergeming. Karena kecapaian, akhirnya Angulimala bertanya kenapa Sang Buddha bisa bergerak begitu cepat, yang oleh Sang Buddha dijawab, “Wahai Angulimala, Aku sudah dari tadi tidak bergerak, engkaulah yang masih terus bergerak.” Angulimala yang mendengarkan perkataan Sang Buddha ini akhirnya berubah seketika dan menjadi pengikut Sang Buddha yang mampu mencapai tingkat Arahat.

Alavaka, setan yang kejam yang hobby memakan daging manusia, sesudah bertemu Sang Buddha dapat menghentikan kebiasaan memakan daging dan mencapai tingkat kesucian pertama.

Ambapali, seorang pelacur dapat terbersihkan pembawaannya setelah bertemu Sang Buddha dan mencapai tingkat Arahat.

Contoh-contoh tersebut di atas memperlihatkan bahwa betapa besarnya Kasih Sayang seorang Yang Telah Tercerahkan,  mampu membimbing dan memberikan `Pencerahan Seketika’ kepada setiap makhluk hidup . Dalam tradisi Buddhisme Tantrayana/Vajrayana Tibet dan beberapa aliran spiritual yang diturunkan dari India oleh para Satguru,   menganut hubungan spiritual guru dan murid, juga dipercayai adanya kemampuan seorang guru Yang Telah Tercerahkan untuk menciptakan kondisi, menarik atau mematangkan karma perintang seorang murid yang terakumulasi dari kehidupan sebelumnya, dengan tujuan agar murid bersangkutan tidak mengalami rintangan karma dalam kehidupan spiritualnya saat ini untuk mencapai pencerahan. Ajaran Sang Buddha yang bersifat esoterik (rahasia) sebagaimana yang dianut oleh tradisi Buddhisme Tantrayana/Vajrayana memungkinkan hal ini dilakukan, baik melalui suatu upacara pengangkatan (inisiasi) hubungan guru dan murid ataupun melalui cara meditasi dan pembacaan mantra. Terlepas dari itu semua, kepercayaan [sraddha/saddha] tetap memegang peranan penting.

Proses Bekerjanya Karma

Memang proses bekerjanya karma tidak dapat kita amati atau dibuktikan secara ilmiah, namun prinsip bahwa kita akan menuai sesuai dengan apa yang kita tanam itulah yang penting untuk kita renungkan. Proses bekerjanya karma hanyalah dapat dipahami sepenuhnya oleh seorang Buddha atau Yang Telah Tercerahkan.

Untuk mengetahui karma dari kelahiran kita sebelumnya, maka renungkanlah berbagai kejadian baik berupa penderitaan [dukkha] ataupun kebahagiaan [sukkha] yang menimpa kita dalam kehidupan saat ini. Sehingga kita tidak tersudut ke dalam suatu kondisi dimana kita harus mencela orang lain sewaktu menderita ataupun terlalu menjunjung orang lain sewaktu kita berbahagia. Karma yang berbuah dalam kehidupan ini apakah menghasilkan kebahagiaan ataupun penderitaan haruslah kita syukuri sebagai makin berkurangnya timbunan karma kita sehingga makin terbukalah peluang untuk kita keluar dari arus kelahiran dan kematian. Namun demikian kitapun tidak perlu terjebak pada sikap pesimistik dengan menyalahkan kehidupan sebelumnya yang menciptakan karma buruk pada kehidupan saat ini karena Buddhisme tidak mengajarkan fatalisme yaitu suatu sikap yang menyalahkan segala sesuatu kejadian sebagai kodrat, takdir ataupun nasib. Buddhisme mengajarkan suatu tuntunan buat kita untuk melihat kehidupan saat ini sebagai alam kehidupan yang memungkinkan manusia untuk berlatih diri keluar dari lingkaran kehidupan dan kematian.

Untuk memahami kondisi bekerjanya karma sebagai suatu Hukum Sebab Akibat, kita dapat memulainya dengan mengenali adanya hukum yang bekerja di alam semesta ini. Dalam Abhidhamma Vatara 54, dan Dighanikaya Atthakatha II-432, dapat ditemui adanya Lima Hukum Alam [Pancaniyama Dhamma] , yaitu :

1. Rtu Niyama [Utu Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan suhu, contohnya gejala timbulnya angin dan hujan, bergantinya musim, perubahan iklim, sifat panas, dan sebagainya.
2. Bija Niyama, yaitu hukum sebab-akibat mengenai biji-bijian, contohnya sesawi berasal dari biji sesawi, gula berasal dari tebu, dan sebagainya.
3. Karma Niyama [Kamma Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan perbuatan, contohnya perbuatan baik akan menghasilkan akibat baik, dan perbuatan buruk akan menghasilkan akibat buruk.
4. Citta Niyama, yaitu hukum sebab-akibat yang berkiatan dengan hasil pikiran, misalnya proses kesadaran, timbul dan lenyapnya kesadaran, sifat kesadaran, kekuatan batin, telepati, kemampuan membaca pikiran orang lain, kemampuan mengingat hal-hal yang telah terjadi, dan sebagainya.
5. Dharma Niyama [Dhamma Niyama], yaitu hukum sebab-akibat yang berkaitan dengan gravitasi, berupa gejala alam yang menandai akan terlahirnya atau meninggalnya seorang Bodhisattva ataupun seorang Buddha.

Hukum Karma [Kamma Niyama] merupakan salah satu dari Hukum Alam tersebut di atas yang terjadi karena prinsip Hukum Sebab dan Akibat, dimana setiap suka ataupun duka pasti ada penyebabnya. Tiada sebab maka tiada akibat. Segala penderitaan akan dapat dihindari apabila dapat diketahui sebabnya. Penyebab tunggal dari segala bentuk penderitaan adalah kemelekatan terhadap nafsu keinginan duniawi.

Terdapat cukup banyak cara menggolongkan Hukum Karma, dan berikut disampaikan beberapa jenis penggolongan Hukum Karma tersebut.

Menurut masa berlakunya, dapat diurut sebagai berikut :

1. Karma yang berlaku segera [ditthadhammavedaniya kamma]
2. Karma yang berlaku sesudahnya [upapajjavedaniya kamma]
3. Karma yang berlaku untuk jangka waktu tidak terbatas [aparapariyavedaniya kamma]
4. Karma yang kadaluarsa [ahosi kamma]

Menurut fungsinya [kicca] karma, maka dapat digolongkan atas :

1. Karma penghasil [janaka kamma]
2. Karma penunjang [upatthambaka kamma]
3. Karma pelemah [upapidaka kamma]
4. Karma penghancur [upaghataka kamma]

Sedangkan penggolongan karma menurut urutan akibatnya [vipakadanavasena], dapat dikelompokkan sebagai berikut :

1. Karma yang berat [garuka kamma]
2. Karma menjelang kematian [asanna kamma]
3. Karma kebiasaan [acinna kamma]
4. Karma yang bertimbun [katatta kamma]

Beberapa perbuatan berikut akan menghasilkan karma baik:

1. Selalu bersifat kedermawanan [dana]
2. Menjaga moralitas yang baik [sila]
3. Senantiasa melakukan meditasi [bhavana]
4. Melakukan penghormatan [apacayana]
5. Pengabdian yang mendalam [veyyavacca]
6. Senantiasa mengirim jasa kepada makhluk yang menderita [pattidana]
7. Berbahagia atas perbuatan baik dari pihak lain [anumodana]
8. Mendengarkan Dharma [dhammasavana]
9. Membabarkan Dharma [dhammadesana]
10. Meluruskan pandangan salah [ditthijjukamma]

Sebagai Buddhis yang mempercayai hukum karma maka kita tidak perlu mencela orang lain yang melakukan perbuatan paling jahat sekalipun, karena selain mereka juga akan memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri, juga mereka tidak akan dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya sendiri.

Sang Buddha bersabda : ” Tidak di langit, di tengah lautan, di celah-celah gunung atau di manapun, juga dapat ditemukan suatu tempat bagi seseorang untuk dapat menyembunyikan diri dari akibat perbuatan jahatnya. ” (Dhammapada, 127).